Nak, semestinya tadi pagi, ketika dirimu belum terbangun, ada kue dengan lilin angka satu di atasnya..maaf nak, ibumu tidak sempat menyiapkannya. Bahkan ibumu terlalu lelap ketika kau sudah terbangun dan bertepuk tangan sendirian seakan menyanyikan lagu Selamat Ulang Tahun untuk dirimu sendiri…
Nak, semestinya di hari ulang tahunmu, setelah kau berjuang selama 12 bulan untuk menjadi seorang toddler dirayakan dengan susu UHT pertamamu. Tapi maaf nak, memang rasanya susu UHT itu berbeda, kau terkejut dan mengenyahkan botol susumu. Semestinya ibu dengan sabar merayu dirimu, menyuapi pelan-pelan atau sekedar ikut menikmati susu whole milk pertamamu sambil bergurau dengan mu. Maaf Nak, tapi ibumu terlalu sibuk, sms kanan kiri, menelpon kanan kiri untuk mempersiapkan tugas ibu hari ini. Ibu menjadi tidak sabar ketika kau menola
k susu dan marah pada diri ibu sendiri… maafkan ibu nak.
Nak, semestinya di hari ulang tahunmu, ada tumpeng nasi kuning yang dipotong beramai-ramai…tapi ibu terlalu sibuk menelponn sana sini untuk meminjam sepatu pentofel karena ibu harus liputan resmi. Ah, nak, kau kan tau…sehari-hari ibumu bersepatu sendal hingga telapak kakinya kapalan.. hari ini, ibu agak pontang-panting, karena mesti memakai sepatu tertutup.. engkau pasti geli kan nak? Tau ibumu tidak punya sepatu tertutup… ah ya, begitulah ibumu..
Nak, semestinya di hari ulang tahunmu, kita berdua napak tilas sebagai bayi baru dan ibu baru. Bercerita tentang apa saja yang telah kita lewati. Tapi maaf yah nak, ibu kok lebih memilih membersihkan botol-botol dan perabotan makanmu yang sudah menumpuk dibandingkan becanda dengan mu.
Nak,.. ini sudah terlalu malam yah. Ketika ku datang ke kamarmu. Kau sudah tergeletak pulas. Rindukah kamu pada ibumu Nak? Marahkah kamu pada ibumu Nak? Kecewakah kamu pada ibumu Nak? Maafkan ibu yah…ibu tidak punya pilihan kecuali bekerja… ini juga akan buatmu kok nak..
Nak,…benarkah ini sudah terlalu malam? Ah ya, jarum jam sudah menunjukkan pukul setengah sebelas malam.. sudah malam… satu hari sudah berlalu, hari lahirmu sudah bergulir. Coba, ibu ingat apa yang ibu lakukan malam ini setahun yang lalu. … Aduh nak, maaf ibu sudah lupa… ibu khilaf…bahkan ibu banyak melewatkan milestone dirimu.. maaf nak.. ibumu tidak perhatian yah? Ibumu egoiskah? Atau pelupa? Sekali lagi maafkan diri ibu yah nak.
Maafkan ibu tidak mencetak kaki pertamamu… yang kalau ibu pikir waktu itu mahaaaalll sekali..lebih baik ibu tabung uang itu untuk mu. maafkan ibu tidak membuat scrap book milestone mu, yang waktu ibu tersita dengan mencuci popok, memerah ASI—kau tau kan ibu sempat putus asa dengan hal itu?—lalu cuti 3.5bulan tak terbayar ketika ibu harus masuk kantor lagi… membuat rencana-rencana pekerjaan, perjalanan keluar kota dan keluar negeri… maaf yah nak, segalanya tidak sesuai dengan yang kita rencanakan.
Ah, ya nak… ini memang sudah terlalu malam.. bahkan kamupun sudah memunggungi ibu, memeluk ujung bantal kesayanganmu. Nafasmu kian teratur, matamu terpejam erat. Tak pedulikan lagi rupanya kue mungil untukmu… sudah sebegitu telatkah ibumu datang?
Ah, sudah… ibu menamaimu Bibisana…bijaksana… semoga engkau bijak menghadapi keadaan kita berdua ini yah nak…
Selamat ulang tahun yang terlambat untuk anakku… pemimpin yang menyenangkan dan bijaksana…
Salam,
Ibumu…