Hahahaha, sori ceritanya sudah agak basi. Tapi sayah punya utang sama R***ka untuk memposting tulisan ini.
Di sela-sela konfrensi yang menjemukkan, melelahkan, sekaligus mengungkit kenangan pahit masa lalu. Yeah, rite, I have a difficult past time.
Suatu hari, kami beberapa wartawan sedang menunggu-nunggu para delegasi untuk keluar sekedar membocorkan apa yang terjadi di dalam ruangan rapat. Ada wartawan AP, Reuters, beberapa wartawan jepang. Kami wartawan dari Jakarta, karena kelelahan duduklah di lantai sambil mengantuk-ngantuk, melempar joke ke sana kemari.
Lalu, tanpa disangka… kepala biro sebuah kantor berita asing, memanggil anak buahnya yaitu temen saya R***ka [untuk selanjutnya R]..dengan suara seperti komandan perang.. oh tidak, lebih kepada majikan ke babunya.. Begini dialognya [dialog berdasarkan keterangan R kepada saya dan beberapa teman yang menjadi saksi]:
Bos : “R..R… Stand Up!”
R yang sedang duduk membelakangi bos segera berdiri dan menghampiri si bos..
Bos : “stand up, what are you doing? Don’t sit down on the floor. It’s not beautiful, you know?”
R : “I got headache, I haven’t get my lunch..”
Bos : “If you feel sick, don’t stay here.. go back to home.”
R.. lalu menyingkir dari si Bos. Saya dan beberapa teman melihat kejadian itu memandang R dengan pandangan melongo. Terlebih R meneteskan air mata. Saya berbisik ke temen saya, “zak, R nangis Zak…”
Akh.. pada saat itu, ada perasaan sakit menghujam tepat ke ulu hati saya. Rasa sakit lima tahun yang lalu terbuka lagi.
Setelah curhat kepada kami semua.. saya memeluk R. bisa merasakan apa yang dialami oleh R. dimaki-maki Bos, tanpa dukungan dari staff orang Indonesia yg laen…