suatu hari, saya ingin mencoba naik angkutan umum bis dari blok M ke rumah saya. sudah lama saya tidak naik bis reguler lagi. hari itu saya pingin nyoba. awalnya agak takut, trauma dengan kejadian rampok di taksi. tapi saya malam itu pingin banget naik bis. semestinya saya naik bis kopaja 605A, tapi yang ditunggu-tunggu lama munculnya. adanya 605 jurusan kampung rambutan. saya akhirnya naik bis itu, dengan pertimbangan kernetnya perempuan.
benar saja, dia sangat "mengayomi" penumpang, terutama yang perempuan pada saat naik maupun turun. tidak segan pula dia memarahi penumpang laki-laki yang sembarangan meletakkan barang bawaannya.
perempuan itu bernama ibu ratmi. di perempatan lampu merah melawai, ia tak kuasa menahan amarah waktu seorang pengamen perempuan membawa bayinya mengamen.
"habis, anak ini sakit, gak ada yang nungguin." kata pengamen perempuan. umurnya belasan, badannya kurus, bajunya mencoba ikuti tren.
"memangnya itu anakmu apa?" tanya ibu ratmi. si pengamen terdiam.
"kamu, mbok ya kerja yang lain, coba jadi pembantu kek. tukang cuci kek. malah keliaran malam2, ngamen bawa bayi. itu anakmu apa nyewa? duuh, cah bagus..."
si pengamen terdiam. "ya udah, kalo ibu gak ijinin saya ngamen."
"bukannya gak ngijinin orang cari uang...tapi saya itu paling marah sama orang yang bawa bayinya malem2 ikutan nyari uang. gemblung. sana, kalo mau ngamen..."
si perempuan itu akhirnya nyanyi. tepat depan saya. saya lupa dia bawa lagu apa kerena pandangannya saya tertuju pada bayi yang kurang lebih berusia 6bulan. dia tertidur. mungkin lelah. mata saya berair.
"pulangin deh anaknya...kasian badannya anget."kata saya setelah meraba keningnya.
"belom cukup buat bayar sewanya kak." Edan, ternyata itu adalah bayi sewaan.
"berapa memangnya kamu sewa?"
"untuk yang bayi gini 30ribu. uang saya baru 20ribu. tadi anak ini panas saya beliin bodrexin." [heh??? bayi 6bulan kasih bodrexin???]
saya terdiam. dalam hati saya marah. ibu ratmi yang mengikuti percakapan kami tiba-tiba teriak. "Oalah! cah gemblung!! kayak gini nih bu, saya suka marah! Saya jengkel sama orang2 gak berguna kayak gini." katanya kepada saya.
"ayo, mana rumahmu, dimana rumah mpok yang nyewain. si mpok roidah bukan? Kunyuk tuh orang, janji ama gue gak sewain anak lagi."
si pengamen perempuan mengkerut. "iya bu, mpok roidah."
bayi di dalam gendongan pengamen itu tampak gelisah. naluri saya sebagai ibu ingin menggendongnya. ibu ratimi tampak bercakap-cakap dengan supir yang ternyata suaminya.
"ayo, mana tuh Roidah?"
"jangan bu, nanti saya diomelin."
"Bodo, biar gw yang talangin."
Dua perempuan dan bayi itu turun setelah bis berhenti. Saya melihat dari ujung mata saya. Antara ingin turun dan ingin pulang. Hati kecil saya sebagai perempuan tidak terima namun, sisi lain saya tau, nayaka menunggu saya.
Saya pun memutuskan turun. Depan ibu Ratmi saya terdiam. Lalu, saya merogoh uang saya yang tidak seberapa.
“buat beli obat anak itu sama susu ya bu. Saya gak punya banyak uang.”
Mata ibu Ratmi berkaca-kaca. Tiba-tiba ia memeluk saya. Kami pun berpelukan. Si pengamen menunduk, memandangi bayi yang tampak menggigil. Ah, ibu Ratmi..andai semua orang sebaik ibu…
Taksi saya hadang untuk mereka naik ke rumah mpok Rodiah. Terima kasih Pak Taksi yang mau bekerja sama dengan saya mengantarkan si kecil, ibu Ratmi, dan perempuan pengamen itu.
Menurut pak supir yang kemudian mencari alamat rumah saya untuk saya beri bayar ongkos taksinya, sesampai di rumah yang dituju, seorang ibu tampak menangis meraung-raung. Rupanya, itu ibu asli si anak. Karena dia punya utang sama ibu2 yang namanya mpok Rodiah, anaknya disewain buat bayar utang. Ibu Ratmi yang membayarkan uangnya dan ngancem Rodiah untuk tidak seenaknya lagi
Duuuh.. Jakartaaa…..
[kejadiannya udah lama.. sekitar bulan oktober 2007, saya langsung tulis tapi belom saya posting..., saya baru posting karena tadi pagi [February 26] saya bertemu Ibu Ratmi depan komplek rumah saya. Beliau memanggil saya..lalu ia turun dari bis nya. Kami bertegur sapa, berpelukan dan saya ucapkan banyak terima kasih kepadanya…]