Begitu jawaban ketika ditanya, “kapan Bajaj belok?”. Kadang ditambah: Hanya Tuhan dan tukang bajaj yang tahu.
Tapi, saya pikir, kalimat tersebut berlaku buat para bikers. Hanya Tuhan yang tahu isi otak mereka, tatkala mereka mengambil jalur yang bertentangan. Akibatnya, saya yang lagi melirik spion kiri karena ada motor menyalip dari kiri, terpaksa mengerem menderit-derit karena ada motor dihadapan saya. Mestinya saya yang marah, tapi si pengendara malah mengepalkan tangannya ke arah saya. Yayaya, hanya Tuhan yang tahu apa yang ada dalam benaknya.
Juga, hanya Tuhan yang Tahu isi kepala para bikers ketika jalanan sudah sempit, tapi tetap memaksakan masuk diantara mobil saya dan mobil depan saya. Hasil… bemper depan baret. Ketika saya turun dan meminta dia untuk tidak maksa masuk…. Sampeyan tahu jawabannya? “Ibu jangan maju dong.. liat nih saya kegenjet..”
Saya: garuk2 kepala. *lah.. wong saya rem tangan dan mesin mati kok dibilang maju!*
Lalu, hanya Tuhan yang Tahu… isi otak para bikers itu… di lampu merah, sudah aturannya kalau berhenti ya di belakang zebra cross. Bukan melaju di tengah zebra cross lantas membuat penyebrang jalan menjengkit menghindar dari gilasan ban motor mereka.
Dan.. hanya Tuhan yang tahu.. sewajarnya bikers minta maaf kepada penyebrang jalan, bukan memaki: “pake itu mata..”.. Jadi, jangan salahkan saya, kalau saya tidak bisa membaca pikiran sampeyan, lantas saya menggampar pipi sampeyan…