Malam-malam, setelah hujan. Menunggu dijemput suami di halte sarinah. Kali ini kacamata harus dipakai, kalau enggak, beneran udah rabun nih mata. *keluh*.
Awalnya, sebuah mobil grand escudo mendekat. Tidak ada yang menarik, kecuali si pengemudi wanita yang menurut saya sangat cantik. Dan seorang penumpang laki-laki di kanannya yang tampak seperti office boynya. Dalam hati bergumam, duh baik bener si bos nganterin OB. Tapi, semua berlalu tatkala mereka berdua berciuman dan berpelukan. Hehehe, biar kata otak liberal, tetep ajah saya shock ngeliat adegan itu, terlebih “gap” antara mereka berdua. Rasanya waktu berjalan lambat. Dan mata saya tidak bisa bergerak dari dua insan yang saling memagut itu. Tak berapa lama mereka saling melepaskan, kemudian saling berbicara sambil memeluk… dan ciuman lagi.. kali ini si laki2 bahkan menciumi leher dan eeemh.. belahan dada si perempuan.. hahahha.. saya niat banget yak!. Sebenernya, saya memalingkan muka pun dari sudut mata saya sudah terlihat jelas. Sampai mobil berlalu, saya masih bisa melihat kancing atas kemeja perempuan itu terbuka dan jelas-jelas payudaranya terlihat.
Tak lama, setelah si laki2 itu turun, matanya mencoba melihat deretan penunggu di halte. Mata saya dan dia yang akhirnya bersirobok. Si laki-laki itu, dengan agak gelisah, berdiri di dekat saya. *gerimis mulai lagi, satu2nya tempat yang tersisa hanya di samping saya.*. lalu, saya mendengar dering telponnya. Dia hanya menjawab, sudah sampai di halte sarinah. Saya mencoba membuang salting saya, hingga datang seorang perempuan dengan bayi perempuan digendongannya dan anak laki-laki berumur lima atau empat tahun, berlari ke arah saya dan berteriak: “ayaaah!!!”… anak laki-laki itu berlari sambil meminta digedong oleh laki-laki sebelah saya. Sumpah mati, saya tidak bisa untuk tidak menutup mulut saya yang terperangah itu.
Saya pandangi keluarga kecil itu, si laki-laki menggendong anak lakinya, sementera si istri membawa bayi mungil dan serenjeng plastik-plastik belanjaan. Si istri, perempuan itu, hitam manis, agak chubby tampak berpeluh. Saya bisa mendengar: “Nih, belanjaannya, aku gak mungkin beli beras, gak mungkin angkatnya. Terus, tadi ibu kasih duit 100ribu buat tambahan lauk di rumah.” Lalu, suara laki2 yang gak jelas saya tangkap. Diikuti suara istri yang memelas: “aaayah… masa aku cape kayak gini kita masih naik Bis. Katanya, ayah dapet bonus, tolong dong yah, naik taksi saja. Ibu cape.”
Hati saya miris, apalagi saya dengar suami membentak istrinya manja, tapi si anak laki-laki berteriak, “ayah.. ayah naik taksi dong yah.. aku mau naik mobil!! Ayo ayah!!” dengan gembiranya. Kali ini saya perhatikan keluarga kecil itu. Saya tatap wajah suami istri itu. Saya tersenyum waktu bayi perempuan itu ternyata memainkan gantungan kunci tas saya yang berbentuk jerapah.. yang kemudian saya berikan padanya. Aha. Ya.. saya melihat rona merah di muka laki-laki itu. Si ibu mengucapkan terima kasih dan tersenyum pada saya. Ah.. manis sekali perempuan ini..
Entah, mungkin malu atau rengekan anaknya, sebuah taksi tarif lama warna hijau mereka naiki. Mata saya bersirobok sekali lagi. Entah apa makna senyum kecut yang tersungging di wajah laki-laki itu. Saya membalasnya dengan bahasa bibir yang berucap b a j i n g a n lalu menggelengkan kepala.
Tak lama kemudian, ayah datang menjemput. Ayah mencium saya sambil minta maaf karena membiarkan saya menunggu lama. Saya tersenyum, menyesal memakai kacamata.. mestinya saya biarkan rabun.. sehingga saya hanya melihat keluarga kecil [yang mungkin akan saya anggap bahagia] itu saja.
[sarinah, 080507, 21.30]