Bahkan Tuhan pun tidak bisa melunakkan keras kepala Junta militer Myanmar. Pak Than Swe.. kemarin pembantumu bersorak.. bahwa negaramu butuh bantuan internasional. Tapi, hari ini, kami ditolak demikian pula para wartawan…
Ingatan saya kembali ke 4 tahun lalu, ketika provinsi paling barat porak poranda akibat tsunami. “Luluh” sudah pertahanan militer Indonesia saat itu. Memberi segala akses semua untuk masuk. Seperti disadarkan, anggota GAM pun luluh dengan tidak lagi keras kepala untuk memerdekakan diri, demikian pemerinta pusat untuk tidak keukeuh mengekang GAM..
Tapi, ini.. di sebuah negara yang sama-sama asia tenggara… “disadarkan” oleh cyclone Nargis.. tetap saja mencurigai semua bantuan asing.. para junta itu lebih baik mati perlahan dibandingkan negaranya diubek-ubek orang asing. Para junta itu memilih rakyatnya mati perlahan dibandingkan kami meliput kesengaraan mereka yang sebenarnya..
Duh.. saya speechless.. saya tidak bisa lagi menuliskan apa yang ada di kepala saya… cukup berita saja.. tinggal perasaan saya yang berkecamuk!.. duh.. tragisnya Myanmar…
http://www.antara.co.id/arc/2008/5/7/sejuta-orang-kehilangan-rumah-akibat-badai-myanmar/