arie's posts with tag: nayaka
Karena sabtu kemarin saya harus nguli eh kerja… maka dari itu, keluarga kecil jadi gak bisa kemana2. tapi, si ayah yang entah kenapa bisa melakukan hal ini, tiba2 mengajak kami untuk melihat Puppy! Ya kami, hanya mbu dan bocah, minus si suster dan minus pak min serta minus pake baby. “trus naek apa?” tanya saya. “kita naik bajaj!!!” Jadilah, yang selama ini Nayaka kenal mobil, kami ajak naik bajaj untuk melihat anak anjing di pet shop kemang. Setelah puas melihat kucing, karena ternyata tidak ada pupy yang dijual.. tau-tau, si kecil ke bagian belakang petshop. Disana dia mendapati berbagai macam anjing titipan. Matanya girang bukan main. Terlebih ketika melihat seekor Labrador krem kegemarannya! “Mau itu.. itu ciko!” teriak si bocah! Tentu tidak bisa nak, karena itu anjing titipan. Ya sudah byebye anjing yg mirip ciko. Setelah dari petshop, kami ke toko mainan dibilangan bangka. Ah, rupanya nayaka senang dengan mainan dolan toys. Dia bisa anteng memainkan permainan mindah2 unsur bentuk tanpa melepaskan pegangan tangannya. Setelah akhirnya memutuskan tidak membeli mainan itu[400reboo boo!!]… Perhatian si kecil beralih ke buku-buku.. well akhirnya buku juga yang dia pilih hehehehe.. karena udah magrib, ayah gak tega nyari bajaj, maka si ayah bilang naik taksi. Tau2 si kecil bilang: itu dia taksinya.. hehehehe, ternyata yang lewat silverbird.. ya sudlah.. kami naik silver saja. Malamnya, ketika berendam air hangat, naya bilang ayahnya. “ayah, naik bajaj udah, besok bis peyot!” hahahaha… kalimat itu di fwd ke sms saya…lumayan, bosen2 liat orang2 parpol dapet sms dari ayah ttg si bung. minggunya, meski saya teler akibat lembur sampai malam, kami naik bis peyot [istilah nayaka terhadap bis] alias transjakarta… setelah rute ragunan-latuharhari, lalu jalan2 liat anak2 puppies bo’ongan [heh! Gue tau bedanya asli Labrador ama anjing kampung ya Bang.. heran.. masih aja doyan nepu hehehehehe] dilanjutkan rute latuharhari-blok M. pulangnya, saya yang gak kuat.. udah dong yaaa.. naek taksi aja…cape booo… setengah cape, taksi kami menuju rumah.. di jalan, naya yang sedari tadi tidak tidur sedikitpun, kecuali pas nenen riyep2, tiba2 melonjak… “bajaj kemarin udah.. tadi naik bis peyot.. yang belom:… angkot!”
Kali ini sepertinya iya. Nayaka curhat dari hati yang paling dalam. tadi pagi, Ibu dan anak sedang bermain peran-peranan. Yang ibu jadi ibu kucing, yang anak jadi anak anjing [*sounds weirdo, huh?*].. Mbu : aduuh heli.. kenapa nangisss… Son : lapel Mbu : sini sini sama mbu cat.. Are you hungry?? would u like cup of milk? Son : yes pelis.. and rawon pelis.. [Oh.. pleaseeeee]… Mbu : here darling.. and give me a kiss… Son : si heli nyium cat… Mbu : ah, now, Ibu Cat like to take a bath and going to work.. Son : diam.. ngeliatin mbu.. Son : enggaak.. ayah aja kejaaaaaaaa *mulai menangis* Mbu : terus, mbu?? Son : mbu… sini ajah.. sama mas naya… *lancar tanpa terputus-putus, lalu disambut dengan pelukan anak ke dada ibunya…*
This is not actually his first sentence. But, this sentence was the first complete and smooth without any juncture in the middle of the words… Morning.. he woke up. His eye is glimmering and he took a long moan. Son:.. ayah.. ayah…. *bermalas-malas di tempat tidur* Mom: ayah gak pulang… masih kerja… Son: ayah ayah ayah.. keeja.. Mom: iyaa… mas kangen ya… Son: è long sighè ayaaah.. kejaa.. melulu…
ORANG TUA DARI ANAK-ANAK YANG HEBAT
Asma Sembiring
Dilla, bekas murid saya yang baru kelas 5 SD adalah anak dengan kemampuan multitalenta dan luar biasa. Dalam usia 10 tahun, ia sudah punya cita-cita mantap kelak akan menjadi apa. Ia belajar tekun dan sungguh-sungguh, sesuatu yang jarang saya temui pada anak-anak seusia Dilla yang lagi senang-senangnya main. Mengajar Dilla menyenangkan, karena tanpa diajarpun ia sudah mahir menjawab soal-soal. Ditambah lagi dengan hobinya belajarnya (suer, seumur-umur baru kali ini ada orang menyebutkan hobinya belajar dan itu keluar dari mulut Dilla). Tadinya saya khawatir dengan hobi Dilla karena terkesan anak-anak seperti Dilla akan tumbuh menjadi anak yang terlalu serius, tak punya teman dan asyik dengan dunianya sendiri.
Kekhawatiran saya ternyata tak beralasan. Selain memiliki prestasi akademis yang baik di sekolahnya (Nilai ulangannya rata-rata selalu di atas 9), tergabung dalam tim olimpiade matematika SD dari sekolahnya serta mengikuti lomba bahasa Inggris antar SD dan berbagai lomba lainnya, Dilla masih sempat bermain bersama teman-temannya, melukis dan ikut kegiatan menari. "Tadinya saya khawatir Mba kalau Dilla kecapean mengikuti kegiatan dan les ini itu. Tapi karena anaknya enjoy ya saya biarin aja", cerita sang Mama. Dihampir seluruh kegiatan yang dilakoni Dilla, ada Mama yang rajin menemani dan mengantarnya ke sana ke mari. *** Ibu empat anak ini berdedikasi luar biasa pada anak-anaknya. Empat anaknya lahir berturut-turut dengan jarak usia satu tahun. Yang tertua sedang menunggu informasi kelulusan SMAnya dan sudah diterima di PTN favorit di Bandung, sementara yang terkecil kelas 3 SMP. Keempat anaknya berhasil masuk sekolah terbaik di kota mereka dari SD hingga SMA dengan nilai sangat baik. Mereka juga tumbuh menjadi remaja yang santun.
Dalam sebuah kesempatan, saya bertanya tip-tip sang ibu tersebut membesarkan putra-putrinya. Simpulan saya dari ceritanya adalah; ia begitu telaten mengurusi anak-anaknya, mendedikasikan darma pada para buah hatinya. Menemani anak-anak dari bangun tidur hingga hingga tidur kembali, mengamati perkembangan akademis mereka lewat ngobrol dengan para guru (di tempat les atau sekolah), memahami kondisi fisik dan mental anak-kapan saat mereka letih dan mengajak mereka refreshing untuk memulihkan semangat anak-anak tersebut. *** Amara (27 th) bikin saya ngiri berat. Di usia 25 tahun, ia diterima di sebuah lembaga yang cukup prestisius di Indonesia. Satu tahun berikutnya ia mendapat beasiswa melanjutkan S2 dan S3 ke luar negeri. Jika tak ada aral melintang, di usia 29 atau 30 tahun nanti, ia akan menggondol gelar Master dan Phd di belakang namanya.
Keberhasilan seperti ini tidak ia dapatkan dalam satu jentikan jari. Sejak kecil Amara dididik sang ayah untuk belajar dan bekerja keras. "Ayah sampai bela-belain begadang menemaniku setiap ujian, bahkan sampai jam 3 malam. Aku belajar, Ayah baca buku atau mengerjakan sesuatu. Jadi aku tenang belajarnya karena ada yang nungguin", cerita Amara.
Tak banyak orang tua luar biasa seperti ini, yang mendedikasikan dirinya untuk terlibat dalam proses tumbuh kembang anak-anaknya seperti para orang tua di atas di tengah jaman seperti sekarang ini, dimana tuntutan kehidupan semakin tinggi. Mereka menghadirkan diri dan ada saat anak-anak mereka membutuhkan sosok orang tua. Tidak sekedar dalam makna fisik namun juga pemikiran, hati dan do'a untuk kemajuan serta perkembangan terbaik putra-putri mereka. Memompa semangat anak-anak mereka dikala terpuruk serta berbincang layaknya antara orang tua dan anak di satu saat dan di lain waktu bertindak sebagai teman atau sahabat.
Jadi jangan heran jika anda bertemu anak-anak yang hebat, sebab di belakang mereka ada para ayah dan ibu dengan pengorbanan serta komitmen yang luar biasa. Tulisan tersbut berasal dari email di sebuah milis yang saya ikuti. Membaca email tersebut membuat saya merenung….. wah.. saya berangkat kerja, terkadang nayaka belum bangun… saya pulang kerja, ternyata nayaka sudah tidur… Dilema pun akhirnya… kalau saya tidak kerja dan seperti ibu2 tersebut di atas… jelas pendapatan keluarga akan timpang segera.. dan tentunya.. biaya pendidikan yang saya persiapkan dengan saya bekerja ini tentunya akan berkurang… dan nanti2nya.. saya tidak bisa menyekolahkan nayaka di sekolah yang bagus, tidak bisa mengikuti les-les seperti Dilla di atas. Idealnya, seorang ibu di rumah, selalu berada di samping anaknya dari dia bangun hingga tertidur lagi.. mungkin yaa.. Dengan membaca email di atas yang ditulis oleh ibu asma sembiring membuat saya di antara sinisme dan nelangsa.. Nelangsa seperti sudah saya jelaskan sebelumnya… Sinis dengan: :iyeee deeeh.. yang berkecukupan.. jadi, ibunya gak usah kerja.. nemenin ajah terus anaknya.. mana anaknya 4 pula.. jarak setaon2.. geleng2 kepala.. sukur daaah.. kebutuhan mencukupi.. Nah, parents.. maafkan kalok saya punya pandangan begitu sinis bin sirik hihihihhiihhi Berdoa: semoga nanti, kalau nayaka sekolah.. meskipun gak saya temenin dari dia bangun sampai dia tidur.. saya bisa nungguin belajar kayak bapaknya amara.. saya bisa mengikuti perkembangan di sekolahnya. Saya bisa berdiskusi dengan guru-gurunya dan saya bisa menemaninya di setiap kegiatan sekolahnya, meski tidak selalu bisa hadir kalau saya harus bekerja.. *Semoga nayaka mengerti* Berdoa: semoga nanti, nayaka bangga dengan dirinya dan bangga dengan ayah mbu nya… kerena ayah mbunya adalah teman dekat dan teman argumen yang terbaik untuknya… Berdoa: semoga kami selalu berada di sisi naya, tatkala iya menangis bahagia dan tertawa atas kesusahannya… Buat asma sembiring: dikau berhasil membuat saya mengerenyitkan kening.. dan segera berdoa buat single parent yang harus mencari uang demi anaknya, tidak patah semangat karena tidak dapat menemani si anak terus menerus… Segera berdoa juga.. semogaaa.. para ibu karir dikuatkan imannya, bahwa apa yang kita kerjaan adalah untuk anak2 kita kelak.. anak-anak yang hebat!.. amiiin..
Sms dari ayah… “bungbung… ibu kemana?? “hooongkkongg” “bukaan, nak…ibu kemana? “baa..llliii” “ngapain?” “maayiiin” Huakakakakakak, pinter deh kamu nak… ibu di bali main yah nak.. hihihihi tega ih kamu… ibu kerja sayang… tapi rupanya ayah bilang.. kalo kerja ya ke kantor.. kalo sekarang ibu ke Bali, ya ibu maiin..
suatu sore, di sebuah kafe... sahabat saya dan suaminya datang, duduk tepat di hadapan saya, nayaka dan si embak.. si sahabat: "Halloo nayaka... udah Gedeeee.. mana giginyaa?" Nayaka: nyengir sambil bersuara... "Hiiii" si sahabat: "nayaka.. ibu manaaa??" Nayaka: "Keee... jaaaa" [kerja maksutnya] si sahabat dan suami: HUAHAHAHAhahahaha saya: mesem... "ini ibu naaak.. disampingmuu"
A “perfect” weaning.. Ini sinikal sih sebenernya. Tapi gue anggap “perfect” sajalah… Nak.. maaf yah, ibu harus minum obat anti malaria.. dan itu waktunya harus sebulan lamanya.. Nak.. maaf yah, kemarin ibu harus disuntik anti racun.. dan itu harus diulang sampe empat kali juga.. Nak.. maaf.. bukan gak mau ibu memberikan ASI sampai di hari ulang tahunmu yang ke-dua.. Satu tahun perjuangan ibu memberikan ASI untukmu? Kamu ingat kan nak? Ingat waktu kamu menolak puting ibu? Ah, ya.. memang ibu terlalu lama meninggalkanmu. Tidak apa ya nak kamu minum asi perahan.. Tapi nak, maaf.. ibu sudah susah memeras lagi. Bener2 kering nak… tapi ibu coba yaa untuk ke memeras lagi.. siapa tau ibu bisa keluar lagi susunya… Ya ya ya..ibu tau, kamu gak terlalu suka UHT tanpa campuran ASI ibu.. tapi coba dulu ya nak.. sampai ibu bisa peras lagi… yaaa??? Huff… saya hanya bisa menghela nafas. Perjalanan liputan kemarin membuat saya harus menenggak obat-obatan yang jelas vorbiden buat ibu menyusui.. tapi.. apa boleh buat. Yang pertama, liputan saya ke endemi malaria, saya DIWAJIBKAN meminum pil anti malaria. Dan itu harus berulang hingga sebulan setelah saya meninggalkan tempat endemi. Yang kedua, karena tempat liputan yang penuh dengan binatang melata, serangga beracun, mau tidak mau saya terkena salah satu binatang itu. Terpaksa,saya disuntik anti racun, agar racun tersebut tidak menyebar ke seluruh tubuh terutama ke jantung. saya ingin protes, I’m still breastfeed my baby… tapi kalimat itu tidak keluar dari mulut saya, karena mulut saya ikut kaku. Ya sudah, saya hanya bisa pasrah. Sepulang dari liputan.. kulit saya terbakar, beberapa malah lecet.. saya dikasih krim buat meredakan iritasinya. Waktu saya baca, ternyata obat keras.. gak boleh juga buat bumil dan bususu… ah.. saya menghela nafas panjang. Benar saja, ketika ada kesempatan memeras susu… si air susu mengering drastis… saya coba tenangkan diri…. Menghela nafas panjang.. memijat sesuai LLL. Tapi tetap tidak keluar. Ah, mungkin karena saya masih di camp, jadi saya tidak focus. Ketika sampai di hotel beberapa hari kemudian, saya coba peras2 lagi..TIDAK KELUAR!!! Saya Frustasi.. Sampai di Jakarta, tengok persediaan ASI… tinggal beberapa ratus mili… Di depan laptop saya sekarang ini.. saya mencoba berpikir positif.. inilah a perfect weaning…… Tapi di mata saya.. terbayang ngamuknya nayaka tadi pagi yang menolak full uhtnya….
beginilah tiap pagi... selalu dinaikin mobil sama eyangnya... akibatnyaa. : "tidak...tidak mau turun....." MVI_1339.AVI (4.6 MB)
Nak, semestinya tadi pagi, ketika dirimu belum terbangun, ada kue dengan lilin angka satu di atasnya..maaf nak, ibumu tidak sempat menyiapkannya. Bahkan ibumu terlalu lelap ketika kau sudah terbangun dan bertepuk tangan sendirian seakan menyanyikan lagu Selamat Ulang Tahun untuk dirimu sendiri… Nak, semestinya di hari ulang tahunmu, setelah kau berjuang selama 12 bulan untuk menjadi seorang toddler dirayakan dengan susu UHT pertamamu. Tapi maaf nak, memang rasanya susu UHT itu berbeda, kau terkejut dan mengenyahkan botol susumu. Semestinya ibu dengan sabar merayu dirimu, menyuapi pelan-pelan atau sekedar ikut menikmati susu whole milk pertamamu sambil bergurau dengan mu. Maaf Nak, tapi ibumu terlalu sibuk, sms kanan kiri, menelpon kanan kiri untuk mempersiapkan tugas ibu hari ini. Ibu menjadi tidak sabar ketika kau menola k susu dan marah pada diri ibu sendiri… maafkan ibu nak. Nak, semestinya di hari ulang tahunmu, ada tumpeng nasi kuning yang dipotong beramai-ramai…tapi ibu terlalu sibuk menelponn sana sini untuk meminjam sepatu pentofel karena ibu harus liputan resmi. Ah, nak, kau kan tau…sehari-hari ibumu bersepatu sendal hingga telapak kakinya kapalan.. hari ini, ibu agak pontang-panting, karena mesti memakai sepatu tertutup.. engkau pasti geli kan nak? Tau ibumu tidak punya sepatu tertutup… ah ya, begitulah ibumu.. Nak, semestinya di hari ulang tahunmu, kita berdua napak tilas sebagai bayi baru dan ibu baru. Bercerita tentang apa saja yang telah kita lewati. Tapi maaf yah nak, ibu kok lebih memilih membersihkan botol-botol dan perabotan makanmu yang sudah menumpuk dibandingkan becanda dengan mu. Nak,.. ini sudah terlalu malam yah. Ketika ku datang ke kamarmu. Kau sudah tergeletak pulas. Rindukah kamu pada ibumu Nak? Marahkah kamu pada ibumu Nak? Kecewakah kamu pada ibumu Nak? Maafkan ibu yah…ibu tidak punya pilihan kecuali bekerja… ini juga akan buatmu kok nak.. Nak,…benarkah ini sudah terlalu malam? Ah ya, jarum jam sudah menunjukkan pukul setengah sebelas malam.. sudah malam… satu hari sudah berlalu, hari lahirmu sudah bergulir. Coba, ibu ingat apa yang ibu lakukan malam ini setahun yang lalu. … Aduh nak, maaf ibu sudah lupa… ibu khilaf…bahkan ibu banyak melewatkan milestone dirimu.. maaf nak.. ibumu tidak perhatian yah? Ibumu egoiskah? Atau pelupa? Sekali lagi maafkan diri ibu yah nak. Maafkan ibu tidak mencetak kaki pertamamu… yang kalau ibu pikir waktu itu mahaaaalll sekali..lebih baik ibu tabung uang itu untuk mu. maafkan ibu tidak membuat scrap book milestone mu, yang waktu ibu tersita dengan mencuci popok, memerah ASI—kau tau kan ibu sempat putus asa dengan hal itu?—lalu cuti 3.5bulan tak terbayar ketika ibu harus masuk kantor lagi… membuat rencana-rencana pekerjaan, perjalanan keluar kota dan keluar negeri… maaf yah nak, segalanya tidak sesuai dengan yang kita rencanakan. Ah, ya nak… ini memang sudah terlalu malam.. bahkan kamupun sudah memunggungi ibu, memeluk ujung bantal kesayanganmu. Nafasmu kian teratur, matamu terpejam erat. Tak pedulikan lagi rupanya kue mungil untukmu… sudah sebegitu telatkah ibumu datang? Ah, sudah… ibu menamaimu Bibisana…bijaksana… semoga engkau bijak menghadapi keadaan kita berdua ini yah nak… Selamat ulang tahun yang terlambat untuk anakku… pemimpin yang menyenangkan dan bijaksana… Salam, Ibumu…
| |